HomeArtikel

PERILAKU vs NILAI-NILAI (1)

Like Tweet Pin it Share Share Email

Berbicara tentang NAPZA, banyak sekali orang yang berbicara hanya melalui 1 “kacamata” saja. Mereka hanya berbicara “Sebaiknya lu berenti aja”, “Kenapa sih lu susah banget berenti?”. Lah? Emangnya ada ya orang yang ga pengen berenti?. Seperti saya tulis tentang tahap-tahap kecanduan disini . Permasalahannya tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi masih ada hal besar lainnya yang kita perlu pahami juga.

Saya menemukan beberapa artikel dari milis na_messenger yang saya pikir sangat bagus untuk menjadi referensi kita. Kita mulai aja ya.

Konflik Karakter Selama Pemulihan
Orang yang memiliki persoalan serius dan lama dengan alkohol atau obat lain bukanlah orang-orang yang bahagia, dan ketidakbahagiaan mereka tanpa dapat dihindari mempengaruhi kehidupan orang-orang yang dekat dengan mereka, khususnya keluarga dan teman. Jika anda sendiri adalah seorang yang ketergantungan secara kimiawi atau dekat dengan orang seperti itu, buklet ini diperuntukkan bagi anda. Ini akan membantu anda memahami sebuah krisis utama yang dialami orang yang ketergantungan secara kimiawi, dan akan menjelaskan apa yang dapat dilakukan terhadap krisis tersebut. Memiliki pengetahuan tersebut akhirnya akan memberikan anda harapan, jaminan yang tegas bahwa hidup dapat sekali lagi menjadi normal dan bahagia.

Apakah Konflik Karakter?
Krisis yang kita bicarakan disebut konflik karakter (atau dalam istilah teknis, “konflik karakterogikal”). Di sini kita tidak hanya membicarakan konflik karakter seperti argumentasi dalam diri anda, “Haruskah saya ambil uang yang saya temukan ini?” atau “Dapatkah saya bertarung dalam perkelahian ini?” Melainkan, kita membicarakan suatu jenis konflik khusus yang berlangsung jauh di dalam diri seseorang yang menjadi tergantung secara kimiawi.


Ini adalah sebuah konflik yang mencuat di antara orang-orang yang, tanpa mengetahuinya, menjadi tergantung secara kimiawi. Ketika mereka mulai menyalahgunakan alkohol atau obat lain ternyata mereka mudah merasionalisasikan (membuatkan alasan untuk) tindakan-tindakan yang tidak dapat diterima yang disebabkan oleh penyalahgunaan tersebut, untuk menekan tindakan-tindakan tersebut dari ingatan, untuk membodohi diri mereka sendiri dengan keyakinan bahwa mereka masih bertindak secara normal dan masih dapat mengendalikan hidup mereka. Tapi sekarang karena ketergantungan kimiawi mengikatkan diri pada mereka, mereka umumnya mengalami perasaan-perasaan yang dalam akan rasa bersalah, ketakutan, malu, dan penyesalan, walaupun demikian mereka tidak dapat menyelesaikan kesalahannya. Seorang yang ketergantungan secara kimiawi menumpahkan konfliknya dengan tangisan kepedihan, “Saya bukanlah manusia; saya adalah perang saudara!”

Ini adalah sebuah perang saudara, sebuah perpecahan yang parah dalam diri orang tersebut. Orang yang tergantung secara kimiawi dapat sangat terpengaruh oleh konflik karakter dimana mereka terperosok ke dalam depresi dan keputusasaan. Mereka merasa tersesat, tiada harapan, bangkrut, tidak layak untuk pemaafan atau penyelamatan. Satu-satunya solusi yang mereka ketahui adalah untuk tetap terbius dari luapan kepedihan dengan memakai alkohol atau obat lain lebih banyak serta lebih sering lagi. Padahal, mereka tidak menyadari bahwa konflik-konflik karakter ini berasal dari hilangnya integritas yang disebabkan oleh penyalahgunaan alkohol atau obat lain. Hampir semua pecandu yang sober dapat dengan kuat mengidentifikasi pernyataan “Saya tidak percaya saya melakukannya – saya tidak akan pernah melakukan hal itu kalau saya sober.” Dapat sangat berguna untuk mengingat bahwa kata “integritas” berasal dari bahasa Latin “integer,” berarti kesatuan atau tunggal (tunggal sebagai lawan dari ganda). Ketika kita memiliki integritas, pikiran kita merupakan kesatuan atau tunggal karena tindakan-tindakan kita konsisten dengan keyakinan kita. Kita “melakukan apa yang kita katakan;” dalaman kita cocok dengan luaran kita.

Tapi tergantung pada alkohol atau obat lain menghancurkan integritas seseorang, sebagai kesatuan. Mengapa? Karena untuk tetap pakai obat pilihannya, seorang pecandu akan menyerahkan segalanya – bahkan keyakinan dan nilai-nilai yang paling dia hormati. Dia akan menggandakan kesepakatan atau menggandakan ucapan pada orang untuk mendapatkan obat pilihannya. Jadi dia tidak lagi berpikiran tunggal tapi berpikiran ganda; akhirnya, dia kehilangan kesatuan atau integritasnya. Ketika mencapai titik ini, saat dia mengetahui secara tidak jelas tapi mengalami penderitaan dari sesuatu yang tidak beres di dalam, dia mengalami konflik karakter.
Dalam analisa terakhir, lalu, konflik karakter tepatnya adalah: konflik yang terjadi dalam diri di saat nilai-nilai yang dipegang teguh oleh seseorang (dimana orang itu mungkin tidak sadar kalau memegang teguh) bertentangan dengan perilaku dan pembodohan diri yang merusak yang disebabkan oleh pemakaian alkohol atau obat lain.

Judul Asli: Behaviour vs. Values: Character Conflict During Recovery

Comments (4)

  • wah tankyuuu atas wisdown -nya kang.. emang kayaknya kita ngga bisa pake kaca mata hitam putih.. sy jg mau berenti merokok susahnya minta ampun..

    ttg yg di tanyakan di blog simkuring.. ternyata udah bisa yach.. heuheuehu … sip lah

    Reply
  • Wah betul banget tuh. Menarik juga kalo masalah kecanduan rokok ini kita diskusikan.

    Tidak banyak orang yang tau kalo rokok termasuk ke dalam zat “pembunuh” tertinggi di Indonesia lo..

    Reply
  • Sebelumnya selamat dulu buat Kang Bani, Anda bisa keluar dari lingkaran Narkoba / Napza dan sekarang mengurungnya agar org lain tidak masuk, salut banget gw… Mengenai rokok emang wajib di discuss tuh, smoga ada yg baek hati menyediakan fasilitasnya… Lam kenal semua

    Reply
  • wah tankyuuu atas wisdown -nya kang.. emang kayaknya kita ngga bisa pake kaca mata hitam putih.. sy jg mau berenti merokok susahnya minta ampun..

    ttg yg di tanyakan di blog simkuring.. ternyata udah bisa yach.. heuheuehu … sip lah

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *