HomeArtikel

Puisi Wajib Kaum Pergerakan

Like Tweet Pin it Share Share Email

Bunga dan Tembok

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

(Wiji Thukul)

BACA JUGA:   C.I.N.T.A
-

Comments (20)

  • Bunga itu akan selalu memberi bau yang harum bagi siapapun yang melewatinya …

    Reply
  • wiji thukullll… saya punya bukunya…. tapi saya paling suka “Sajak Suara” karena sesungguhnya suara itu tak bisa diredam (meskipun) mulut bisa dibungkam… huehuehuehue

    Reply
  • wogh… ini puisi dari buku apa ya? keren ya..

    Reply
  • dan seperti menjaga bunga, tak seorangpun kuizinkan membuatnya layu. apalagi,bunga itu telah bertunas, berkembang biak kemana mana. sungguh,tak seorangpun kuizinkan menghancurkannya.

    bumiku dan bumimu sama, memberikan kehancuran pada penghuninya. lalu,untuk apa kita anggap bumi kita itu masih ada?

    lupakan saja sobat,dan kita bangun bumi baru,bagi kita, bagi semangat kita yang telah tumbuh.

    Reply
  • Sajak Suara
    Wiji Thukul

    sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
    mulut bisa dibungkam
    namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
    dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
    suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
    di sana bersemayam kemerdekaan
    apabila engkau memaksa diam
    aku siapkan untukmu: pemberontakan!
    sesungguhnya suara itu bukan perampok
    yang ingin merayah hartamu
    ia ingin bicara
    mengapa kau kokang senjata
    dan gemetar ketika suara-suara itu
    menuntut keadilan?
    sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
    ialah yang mengajari aku bertanya
    dan pada akhirnya tidak bisa tidak
    engkau harus menjawabnya
    apabila engkau tetap bertahan
    aku akan memburumu seperti kutukan

    Reply
  • seumpama bunga….
    akh..mendingan diriku tidak manganggap dirimu bunga biar diriku bebas menghancurkanmu kapan aja semauku…wakakak

    Reply
  • Sorry mas aku nggak sebegitu tau puisi.. đŸ˜€ jadi bingug buat nangkep apa maksud itu semua.

    Reply
  • Wahhhh Emank patut dibaca nih mas

    Reply
  • bunga itu indah, namun terkadang bunga juga bisa menyakitkan seperti bunga mawar dengan durinya….

    Reply
  • sip sip… memang dalem sekali maknanya

    Reply
  • cie2….
    ada apa dengan bunga om?
    padahal bungan kan bikin wangi hidup ya..
    napa musti dirontokan om? hue..he…

    Reply
  • đŸ˜® đŸ˜® đŸ˜® đŸ˜® đŸ˜® đŸ˜®
    Wow! blogger pujangga!

    Reply
  • ternyata bunga memang slalu membuat suasana hati menjadi senang

    Reply
  • dalem banget maknanya…bikin terharu

    Reply
  • ” Sajak suara ” yg di atas ada lagunya bro.. ku barudak cicadas beja namah.. ngan ketua band na beja namah aliran kiri uy..

    tapi emang keren2 lagu namah seh

    Reply
  • wow puisinya keren.. tp apa hubungan bunga ama tembok ya? hehe

    Reply
  • dalem banget maknanya…bikin terharu

    Reply
  • wiji thukullll… saya punya bukunya…. tapi saya paling suka "Sajak Suara" karena sesungguhnya suara itu tak bisa diredam (meskipun) mulut bisa dibungkam… huehuehuehue

    Reply
  • Sajak Suara
    Wiji Thukul

    sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
    mulut bisa dibungkam
    namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
    dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
    suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
    di sana bersemayam kemerdekaan
    apabila engkau memaksa diam
    aku siapkan untukmu: pemberontakan!
    sesungguhnya suara itu bukan perampok
    yang ingin merayah hartamu
    ia ingin bicara
    mengapa kau kokang senjata
    dan gemetar ketika suara-suara itu
    menuntut keadilan?
    sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
    ialah yang mengajari aku bertanya
    dan pada akhirnya tidak bisa tidak
    engkau harus menjawabnya
    apabila engkau tetap bertahan
    aku akan memburumu seperti kutukan

    Reply

Leave a Reply to Kristina Dian Safitry Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *