HomeArtikel

Dua Dekade Penularan HIV di Indonesia: Sebuah Refleksi

Like Tweet Pin it Share Share Email


Tulisan ini ditujukan sebagai bahan refleksi individu maupun organisasi atas kerja-kerja yang telah dilakukan dalam upaya penanggulangan AIDS, dan juga atas situasi yang terjadi di Indonesia pada umumnya.

Karena upaya-upaya yang sudah dilaksanakan ‘secara komprehensif’ dalam rangka menanggulangi AIDS ternyata belum mampu membendung laju epidemi itu sendiri. Data yang dilaporkan dari sumber-sumber resmi selalu saja menunjukkan kenaikan kasus dari tahun ke tahun.


Masyarakat dituding tidak dapat menerima upaya-upaya penanggulangan AIDS dengan menstigma pengidap HIV sebagai orang yang tidak bermoral, menolak penyediaan suntikan steril karena dianggap melegalkan narkoba, dll. Padahal, benar tidaknya tudingan tersebut boleh jadi karena sejumlah praktisi di bidang ini tidak pernah melibatkan masyarakat dan malah mengeksklusifkan diri dengan jargon-jargon asing yang ditelan bulat-bulat tanpa melalui proses pemahaman terhadap dinamika masyarakat Indonesia.

Penggunaan istilah-istilah ini kemudian menjadi prestige bagi yang menyebutkannya dan meninggalkan si penerima pesan dengan pemahaman yang tidak mengakar pada kondisi lokalnya. Apalagi jika kemudian si penerima pesan menjadi latah dengan istilah-istilah asing tersebut.

Masyarakat di luar kelompok sasaran (pengguna napza suntik, pekerja seks, atau orang yang terinfeksi HIV) tidak diberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan mengenai bagaimana menanggulangi permasalahan yang dihadapi di lingkungan mereka ataupun pendidikan mengenai bagaimana lebih jauh berinteraksi dengan orang-orang terdampak ataupun beresiko tertular HIV. Tak heran misalnya, bila mereka yang mengidap HIV terus merasa didiskriminasi atau pengguna napza suntik terus berada dalam kelompok yang tersembunyi dan tereksklusi secara sosial.

Kondisi ini pun bertambah buruk seiring dengan berlalunya waktu. Ornop (atau LSM) semakin nyaman dalam “comfort zone-nya” dan melupakan peran pemberdayaan yang menjadi mandat sebuah organisasi masyarakat. LSM kemudian lebih memilih untuk sibuk memberikan sedekah berupa pelayanan gratis kepada kelompok sasarannya yang jumlahnya ditargetkan donor ketimbang membangun mekanisme penanggulangan AIDS di masyarakat dengan pemerintah (aparat negara) sebagai penyedia layanan. Agar layanan-layanan ini menjadi lebih banyak, lebih luas, lebih terakses, dan disediakan oleh negara nampaknya luput dari prinsip kerja yang entah dengan cara bagaimana terdistorsi oleh privatisasi dan industrialisasi sektor kesehatan.

Penguasaan teknologi dan pengetahuan oleh segelintir pihak membuat penanggulangan AIDS hingga kini tidak menjadi pengetahuan umum dan didialogkan secara terbuka kepada masyarakat. Belum lagi, istilah pemberdayaan masyarakat hanya menjadi sebuah hafalan yang secara fasih diucapkan tanpa benar-benar menekankan pada proses pemindahan kuasa untuk pemecahan masalah termasuk kuasa informasi dan teknologi kepada masyarakat itu sendiri.

Di titik ini pemerintah sebagai yang berkewajiban untuk menunaikan hak-hak warga negara (termasuk hak kesehatan – dalam hal ini pencegahan dan pengobatan HIV) menjadi tidak dibekali mandat oleh masyarakat, termasuk oleh mereka yang terimbas, untuk menanggulangi masalah tersebut. Tidak terjadi penggalangan kesadaran dan kesepakatan di masyarakat atas masalah ini sebagai bahan advokasi untuk kebijakan serta mekanisme penanggulangan AIDS yang lebih baik di suatu wilayah hukum.

Yang terjadi kemudian adalah ornop berada di barisan depan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat dimana masyarakat yang diwakilinya belum tentu menyadari apa yang diperlukan untuk mengatasi masalah mereka; dan juga berada di barisan depan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terimbas, padahal seharusnya tugas ini jelas-jelas adalah menjadi kewajiban negara untuk menjamin kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya. Maka masyarakat terlena oleh pelayanan masyarakat dengan lembaga swadayanya (padahal kebanyakan lembaga ini tidak dibentuk oleh masyarakat setempat) melalui pendekatan individual, pemerintah terlena juga karena apa yang menjadi kewajibannya sudah ditunaikan masyarakatnya yang mampu memberikan layanan secara swadaya.

Hasilnya, layanan yang seharusnya disediakan melalui infrastruktur layanan kesehatan negara yang telah tersedia di hampir seluruh pelosok negeri, hanya dilakukan segelintir orang yang menguasai pengetahuan dan teknologi penanggulangan HIV.

Bagaimana kita bisa menangani persoalan HIV yang demikian seriusnya dengan hanya mengandalkan segelintir pihak yang berusaha terus menguasai teknologi dan pengetahuan tanpa mengalihkan kuasa kepada masyarakat untuk turut menangani masalah di lingkungannya, utamanya dengan menagih tanggung jawab negara?

Tak heran jika selama dua dekade sejak kasus pertama di temukan, penyebaran HIV tidak dapat terbendung walaupun puskesmas sebagai ujung tombak sistem kesehatan masyarakat tersedia di hampir seluruh pelosok negeri.

Penulis: Sari Dewi Aznur (seorang teman dan sahabat)

Comments (25)

  • Bismillah… Mudah-mudahan bisa hiks… Secara drtd gak bisa komen dimana-mana kalo bentuknya gini 🙁

    Baniii.. tulisannya beyat niihh.. berapa kilo sih??

    Salam ya bwt temennya hehe.. Keren yg punya minat segitu gedenya sama hal-hal gini. Salut!
    PERTAMAXXXX………

    Reply
  • 🙂 masyarakat indonesia masih terlalu polos atau bodoh saya tidak tahu. yang pasti masalah sex dan aids masih merupakan hal yang tabu bagi masyarakat indonesia. khususnya masyarakat pedesaan. sementara usaha pemerintah untuk mengurangi penyebaran aids masih terbentur dengan hal yang namanya budaya bagi masyarakat indonesia. oleh karena itu diharapkan usaha ekstra dari pemerintah untuk menanggulangi masalah penyebaran aids di indonesia sekaligus melestarikan budaya tabu terhadap sex di kalangan masyarakat.

    o ya, link blog ini sudah saya pasang di blog saya. link balik ya…

    salam kenal.
    AGUNG PRASETYA HARDIKA JAYA

    Reply
  • pengetahuan tentang seks seharusnya seimbang dgn pengetahuan tentang hiv or aids…
    karna sangat penting bagi kita tuk mengetahui akibat dari seks…yg bukan hanya menimbulkan kehamilan saja…

    HATI2 AJA DGN ESEK2 BEBAS..!!

    Reply
  • Dari statistik di kotaku saja free sex di kalangan mahasiswa meningkat kalo nggak salah 9x lipat,bro. gila nggak? Nggak tau mesti diapain tuh anak-anak. Kesadaran dirinya sepertinya sudah hilang. Mungkin sekarang untuk mencegah dampak lebih buruk di kemudian hari adalah faktor pendidikan dalam keluarga, baik secara religi ataupun pendidikan non formal lainnya.

    Reply
  • Moral pemuda bangsa ini sebagian sudah hancur. Jadi anak-anak kecil dan remaja yang harus menjadi perhatian sangat serius dari pemerintah karena merekalah generasi penerus bangsa ini. Apa kita mau jadi negara yang TOP? TOP dalam hal negatif? Saatnya juga seluruh elemen masyarakat dan khususnya para keluarga (para orang tua) nggak sibuk cari uang melulu. Pendidkan anak tentang sex dan lainnya harus sangat diperhatikan. Sudah ahh, ntar jadi artikel lagi hehee nice info,bro bani

    Reply
  • kalo menurutku sih banyak faktor penyebabnya lho. semisal karena kurangnya advokasi yang ini bisa menyebabkan seseorang kurang informasi. trus seperti yang kita tahu, gak semua masyarakt kita tuh peduli betapa pentingnya peroleh pemahaman menyangkut masalah yang satu ini.

    Reply
  • benerrr, benerr.. kalo pendapatku sosialisasi di masyarakat harus dengan bahasa masyarakat, kadang susah juga mereka mengerti kalo disampaikan secara bahasa buku,..

    Reply
  • Mari kita Jihad Melawan AIDS n SEks bebas,..!!
    Allahu Akbar,..

    Reply
  • justru karena ksadaran dan peranggapan tabu tentang dunia seks dan permasalahannya, maka penyuluhan2 tentang seks belum mendapat tempat dihati masyarakat indonesia..thanks buat share nya mas..

    Reply
  • sek bebas no!
    kawin yes!

    Reply
  • wahh, kang Bani ini care betul ke penanggulangan AIDS, salut saya kang, jd malu blum bisa berbuat apa2 untuk yg satu ini

    Reply
  • wedew, makin lama nambah salut aja ama loe sob…hikzz…berat banget bahasannya…salut..salut…

    moga makin suskes sob 😉

    Reply
  • sukses utk acaranya yap om bani jelekkkkkkkkkkkkkkkkkkkk 😀 😛

    Reply
  • aq jg dah kena HIV..Hasrat Ingin Vosting….xixixi
    BTW anyway busway…kang bani perhatian banget ya ma masalah HIV AIDS..syukurlah.. indonesia msh punya org2 spt kang bani…
    sep bro

    Reply
  • wah jadi hiu nie…

    wait n see aja…
    peran perang kepentingan atau konstituen.
    hehehe…

    tetap semangat!!!.

    Reply
  • orang bilang akibat intim dengan setan yak kepanjangannya…hehehe

    Reply
  • hm…..aku waktu tahun dulu banget sempet ikut sama para relawan untuk aids, yang kantornya di menara peninsula, dulu banget…Terus tgl 1 desember tahun 2002 ikut nyanti dalam rangka hari AIDS, nah..tanggal 1 des nanti ini aku akan nyanyi juga dalam rangka memepringati..Sempet juga berada sendirian dalam ruangan yang dipenuhi penderita AIDS dan mereka tau aku bukan OHIDA..Kok malah cerita yac..Intinya aku setuju sama hal2 yang kamu sebutkan di atas…Namun emang harus ada yang memulai….

    Reply
  • peningkatan aids di indonesia semakin tinggi apa ,asyarakat kita Blm mengetahui dampak AIDS apa..apa…hindari aja sex..bebas,,trim bagus2 artikelnya

    Reply
  • peningkatam HIV AIDS di Indonesia semakin parah dan itu dari sebuah gaya hidup yang bebas maka saatnya utk semua menghindari sex bebas

    Reply
  • yang jelas menurutku… yang sangat-sangat-sangat di perhatikan oleh orang banyak… “Jauhi Virusnya bukan Orangnya”.

    Reply
  • hindari jarum suntik… hihihiiii.. yg penting kaga nyipek dah, trus klo ngesex ya ama bini aje, jgn jajan sembarangan heuheuu

    Reply
  • peningkatam HIV AIDS di Indonesia semakin parah dan itu dari sebuah gaya hidup yang bebas maka saatnya utk semua menghindari sex bebas

    Reply
  • justru karena ksadaran dan peranggapan tabu tentang dunia seks dan permasalahannya, maka penyuluhan2 tentang seks belum mendapat tempat dihati masyarakat indonesia..thanks buat share nya mas..

    Reply
  • orang bilang akibat intim dengan setan yak kepanjangannya…hehehe

    Reply
  • Bismillah… Mudah-mudahan bisa hiks… Secara drtd gak bisa komen dimana-mana kalo bentuknya gini 🙁

    Baniii.. tulisannya beyat niihh.. berapa kilo sih??

    Salam ya bwt temennya hehe.. Keren yg punya minat segitu gedenya sama hal-hal gini. Salut!
    PERTAMAXXXX………

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *