HomeArtikel

Sebenarnya Bipolar Penyakit Apa sih?

Like Tweet Pin it Share Share Email
Bipolar penyakit apa sih itu?

Beberapa bulan ke belakang ini tetiba saja banyak teman-teman yang mengontak saya dan memberitahu bahwa dirinya terkena penyakit Bipolar. Dari beberapa forum/group kesehatan yang kebetulan saya menjadi salah satu adminnya, banyak juga member-member yang mendiagnosa dirinya terkena Bipolar. Sebegitu populernya kah Bipolar itu sampai saya melihat nya ini menjadi sebuah tren ”untuk menjadi pasien Bipolar’‘.

Apakah begitu mudah seseorang untuk mendiagnosa penyakit ini? Atau kurang referensi dan literasi yang baik akan Atau kebanyakan googling lalu membaca sebuah tulisan dan langsung mendiagnosa diri bahwa dirinya sama seperti yang ditulisan itu “Saya Bipolar“.

Jadi Sebenarnya Bipolar itu Penyakit Apa sih sebenarnya?

Kebetulan tepat di hari ini tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Bipolar Sedunia. Jadi saya mau membahas Bipolar itu penyakit apa sih?

Bipolar merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan perubahan mood yang ekstrem. Indikasi kelainan jiwa ini terbagi  menjadi beberapa episode;

  1. Episode Mania( perasaan bahagia yang berlebihan )
  2. Episode Depresi ( Sedih yang mendalam).
BACA JUGA:   Posko Posko Advokasi Penyiksaan

 

Perubahan mood ekstrem yang dialami oleh pasien bipolar dapat mengganggu pola tidur, rutinitas, serta kehidupan sosialnya sehari-hari. Secara universal, kendala mental yang tidak dapat disembuhkan. Tetapi gejalanya bisa dikendalikan dengan obat- obatan serta psikoterapi, sehingga mutu hidup dan kualitas pasien dapat lebih baik.

Biasanya Gejala bipolar datang dengan pergantian emosi yang ekstrem, semacam:

  1. Dari sangat senang menjadi sangat sedih
  2. Dari percaya diri jadi sangat pesimis.
  3. Dari bersemangat jadi sangat malas beraktifitas.

 

Tiap fase emosi ini bisa berlangsung dalam hitungan minggu ataupun bulan. WOW banget kan 🙁

Tanda Dan Gejala Bipolar

 

Indikasi bipolar yang utama adalah pada perubahaan suasana hati ( mood) yang cepat. Dimulai dari bahagia yang kelewatan ke kesedihan yang sangat mendalam, ataupun kebalikannya. Perasaan bahagia yang berlebihan disebut episode mania. Sedangkan episode tekanan mental dinamakan episode depresi.

Berikut penjelasannya:

Episode mania

Episode ini adalah antara mania serta hipomania. Keduanya mempunyai indikasi yang mirip, tetapi episode mania lebih berat dibanding hipomania. Mania menimbulkan kendala pada kegiatan sehari-hari serta kegiatan sosial.

BACA JUGA:   WAR on DRUGS dan Politik Tersembunyi Pemerintah AS

Ciri serta indikasi bipolar fase mania serta hipomania meliputi:

  • Tidak dapat diam, misalnya kerap mondar- mandir
  • Tenaga yang bertambah serta terkadang diiringi rasa gelisah
  • Perasaan bahagia serta yakin diri yang berlebihan
  • Merasa tidak perlu tidur ataupun susah tidur
  • Banyak bicara
  • Pola pikir yang bergeser dari satu ilham ke ilham lain dengan cepat
  • Fokus yang gampang teralihkan
  • Sering membuat keputusan tidak pas, semacam membeli benda yang tidak diperlukan.

 

Episode depresi

Ini seperti episode kebalikan dari Episode Mania, yaitu:

  • Merasa sangat sedih
  • Merasa tidak mempunyai harapan
  • Merasa tidak berharga
  • Mempunyai rasa bersalah yang berlebihan
  • Susah mengambil keputusan
  • Kehilangan “ketertarikan” pada hal-hal yang biasa disenangi
  • Tidak nafsu makan ataupun sebaliknya malahan sangat nafsu makan
  • Susah tidur atau tidur berlebihan
  • Merasakan sangat lelah
  • Pada permasalahan berat, percobaan bunuh diri sangat mungkin dilakukan

 

Pemicu bipolar

Pemicu bipolar belum dapat dipastikan hingga saat ini. Tetapi para ahli dan profesional memperkirakan terdapat beberapa aspek yang bisa mempengaruhi kemunculan penyakit Bipolar.

BACA JUGA:   Polisi Ditangkap karena Memeras

Beberapa aspek tersebut adalah meliputi:

  1. Aspek genetis ataupun keturunan. Apabila ada silsilah orangtua ataupun kerabat Kamu memiliki bipolar, sangat mungkin Kamu dapat memiliki penyakit ini.
  2. Kendala struktur serta kerja otak.
  3. Dari faktor lingkungan, misalnya beban pikiran yang berlebihan serta berkelanjutan menjadi stres ( pengalaman/trauma ditinggalkan oleh orang yang disayangi), pengalaman yang menimbulkan trauma dalam masalah kesehatan diri.
  4. Penyalahgunaan obat- obatan ataupun alkohol.

Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *