Perilaku VS Nilai Nilai (2)

banirisset

gam 10 Duh ga kerasa udah taun 2009 lagi ya. Sebelum memulai posting perdana di awal tahun ini. Saya mau ucapin dulu met taun baru buat sobat-sobat semua, terimakasih banyak buat yang sering ngejogrokin (*dueeng) blog ini, ngomentarin, nyapa, ato sekedar mampir kesini. Semoga di taun 2009 ini resolusi sobat bakal tercapai. Amiiiiinnn…

Langsung lanjut ah.. Saya inget masih punya hutang artikel terusan dari Perilaku VS Nilai-nilai (1). Nah di postingan sekarang ini saya akan memposting terusannya ya. Posting ini masih membicarakan Karakter-karakter yang terjadi pada saat seseorang mencoba pulih dari kecanduan NARKOTIKA. Semoga bermanfaat.

Mengapa Konfliknya Terjadi tanpa Diketahui

Matanya melotot. Wajahnya tegang dan terbenam. Dia menatap istrinya tepat ke arah mata dan menyatakan, “Hanya ada dua!” Ketika menyatakan dengan lantang kisah kejinya di malam sebelumnya yang sangat membuat malu keluarganya, dia melanjutkan, “Saya yang benar! Saya dapat mengingat dengan tepat apa yang saya lakukan. Kamu selalu melebih-lebihkan! Kenapa kamu tidak bersenang-senang seperti saya? Masalah? Apa masalahnya? Saya akan memberitahumu siapa yang menjadi masalah! Kalau kamu mengikuti kemajuan zaman, pasti saya baik-baik saja!”


Apakah terdengar akrab? Kejadian serupa terjadi di hampir semua rumah pecandu. Apa yang penting dalam kejadian tersebut (jadinya malah si pecandu yang merasa benar) adalah mereka kebanyakan mengungkapkan berbagai elemen sistem pertahanan seseorang (defense system). Si pecandu dalam contoh ini tidak mengenali keadaannya sebagai konflik karakter karena dia telah mengembangkan sistem pertahanan psikologis yang canggih yang membutakannya dari kenyataan penyakitnya. Untuk memahami apa yang terjadi di dalam diri si pecandu, kita perlu memeriksa sistem pertahanan itu dan pertanyaan-pertanyaan yang ditimbulkannya tentang kebohongan dan delusi (penipuan/pembodohan diri).

Berbohong
Orang yang menghadapi perilaku aneh berpikir bahwa orang tersebut berbohong. Mereka melihat kebenarannya diselewengkan oleh seseorang yang dalam pandangannya jelas-jelas mengetahui kebenarannya dan oleh karena itu seharusnya bertanggung jawab akan hal tersebut. Suami seorang alkoholik, menumpahkan frustrasinya pada seorang konselor, berkata, “Saya tahu itu terjadi, tapi dia bilang itu tidak terjadi.” Lalu setelah diam, “Saya tidak tahu, mungkin tidak terjadi. Saya pikir saya sudah gila!” orang ini mulai meragukan ingatannya sendiri dan bahkan kewarasannya. Mengapa? Karena dia yakin dia hidup dengan seseorang yang tahu dia berbohong padanya tapi terus melakukannya.

Apakah orang yang ketergantungan secara kimiawi adalah pembohong? Mereka yang menyaksikan jenis perilaku ini akan dengan pasti berpikir demikian. Berbohong adalah usaha sadar, sengaja untuk menyangkal atau mengaburkan kebenaran oleh seseorang yang benar-benar menyadari kebenaran tersebut. Tapi situasinya agak berbeda ketika seorang pecandu menekankan pada apa yang jelas-jelas tidak benar. Contohnya, seorang pecandu yang menyatakan dirinya hanya minum dua gelas semalam padahal benar-benar mabuk, telungkup di meja, dan memecahkan sebuah lampu. Melainkan, dia secara tulus meyakini bahwa dia benar-benar dapat mengendalikan diri, bahwa dia adalah nyawanya pesta, dan bahwa istrinya hanyalah selimut basah. Bagaimana bisa demikian? Jawabannya terletak pada sifat dasar ketergantungan kimiawi dan pada caranya merayapi korbannya.

Sebenarnya ketergantungan kimiawi memustahilkan korbannya untuk mengenali atau menerima secara spontan kenyataan bahwa pemakaian obat atau alkoholnya menyebabkan masalah serius pada mereka. Ketika seseorang bergerak menuju ketergantungan kimiawi, mereka menjadi kurang mampu untuk mengenali keganasan atau bahkan kehadiran gejala-gejalanya. Ini bukan sekedar bahwa mereka tidak bersedia mengenali dan menerimanya; mereka tidak mampu. Alasannya adalah bahwa sistem pertahanan tersebut yang secara tidak sadar mereka kembangkan menghasilkan sebuah delusi diri sungguhan. Ketika penyakitnya berkembang, ketidakjujuran dan penghindaran diri yang menandai delusi semakin dalam tertananmnya.

Also Read

Bagikan:

Tags

20 thoughts on “Perilaku VS Nilai Nilai (2)”

  1. manusia bisa membohongi atau melakukan penyakalan terhadap orang lain, tetapi pada dasarnya manusia itu tidak bisa melakukan penyangkalan atau membohongi diri sendiri. itu fitrah. tetapi ngelihat kasus diatas, bagi pecandu nih misalnya, apakah juga demikian?

    Reply
  2. @kristina: mengapa penyakit kecanduan disebut sebagai chronical desease. Karen sifat2nya (yg seperti manusia lainnya) cenderung berlebihan, berulang-ulang dan merugikan orang lain.

    Reply
  3. “Ketika penyakitnya berkembang, ketidakjujuran dan penghindaran diri yang menandai delusi semakin dalam tertanamnya”

    dan mereka akan semakin masuk ke dalam jurang yang lebih dalam…terus..dan terus..

    namun kesadaran diri dan penyadaran yang kontinyu dapat menyelamatkan mereka atas kemauan dan perjuangannya agar bisa terlepas dari lilitan yang dirasakan dari dalam, tanpa kemauan dari mereka sendiri….orang lain tidak mampu memberikan pertolongan yang berarti…

    Reply
  4. Adiksi bagi Pecandu adalah suatu hal yang alami dan dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhanya, seperti kita mengkosumsi zat lainnya

    Hadi Y

    Reply
  5. Pemikiran saya sederhana aja …
    Kita harus mampu menyeimbangkan diri dengan alam, cobalah berdamai dengan alam, kalo bisa berdamai dengan alam, pasti bisa juga berdamai dengan dirinya sendiri …

    *halah Ban

    Reply

Leave a Comment


For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.